Thursday, September 22, 2011

Naibul Fa'il

Naibul fa’il adalah isim marfu’ yang terletak setelah fi’il majhul untuk menunjukkan orang yang dikenai pekerjaan.
Contoh:
ضُرِبَ الْكَلْبُ (Anjing itu telah dipukul)
يُكْتَبُ الدَّرْسُ (Pelajaran sedang ditulis)
Ketentuan-ketentuan naibul fa’il
1. Naibul fa’il merupakan isim marfu’. Asal dari na’ibul fa’il adalah sebagai obyek (maf’ul bih) yang mempunyai I’rob nashob. Tatkala failnya dihapus, maka maf’ul bih menggantikan posisi fa’il yang mempunyai I’rob rofa’.
Contoh:
Tatkala fa’ilnya dihapus, menjadi:
نُصِرَ مُحَمَّدٌ (Muhammad ditolong)
2. Naibul fa’il harus diletakkan setelah fi’il. Apabila ada isim marfu’ yang terletak di depan /sebelum fi’il maka dia bukan naibul fa’il.
Contoh:
مُحَمَّدٌ نُصِرَ (Muhammad ditolong)
مُحَمَّدٌ bukan naibul fa’il. Hal ini karena ia terletak di depan fi’il.
Naibul fa’ilnya adalah berupa dhomir mustatir yang terdapat pada fi’il نُصِرَ yang taqdirnya adalah هُوَ
3. Fi’il yang dipakai adalah fi’il majhul.
Contoh:
مُحَمَّدٌ bukan sebagai na’ibul fail karena fi’il yang dipakai bukan fi’il majhul.
4. Fi’il yang dipakai harus selalu dalam bentuk mufrod
Contoh:
قُتِلَالْكَافِرُ (Seorang kafir itu telah dibunuh)
قُتِلَ الْكَافِرَانِ (Dua orang kafir itu telah dibunuh)
قُتِلَ الْكَافِرُوْنَ (Orang-orang kafir itu telah dibunuh)
5. Bila naibul fa’ilnya mudzakkar, maka fi’ilnya mufrod mudzakkar. Bila naibul failnya muannats maka fi’ilnya mufrod muannats.
Contoh:
6. Apabila susunan sebelum fa’ilnya dihapus menpunyai dua maf’ul bih (obyek), maka setelah failnya dihapus, maf’ul bih pertama menjadi naibul fail sedangkan maful bih kedua tetap manshub sebagai maf’ul bih.
Contoh:
Tatkala fa’ilnya dihapus, maka fi’ilnya harus dirubah menjadi bentuk majhul. Kemudian maf’ul bih pertama ( yaitu الْفَقِيْرَ ) berubah menjadi naibul fail, sehingga I’robnya menjadi rofa’. Adapun maf’ul bih ke dua ( yaitu طَعَامًا )tetap manshub sebagai maf’ul bih.
Catatan Na’ibul Fa’il:
1. Ketentuan na’ibul fa’il mirip dengan ketentuan yang ada pada fa’il.
2. Naibul fa’il tidak harus terletak secara langsung dibelakang fi’ilnya.
Contoh:
3. Apabila na’ibul fa’il tidak terletak secara langsung dibelakang fi’ilnya, maka untuk na’ibul fa’il yang muannats, fi’ilnya boleh mufrod muannats atau mufrod mudzakkar.
Contoh:
atau
4. Apabila na’ibul fa’ilnya berupa jamak taksir, maka fi’ilnya boleh berbentuk mufrod mudzakkar atau mufrod muannats.
Contoh:
Atau
5. Terkadang, na’ibul fa’il berupa isim mabni
Contoh:
قُبِضَ الَّذِى سَرَقَ الْفُلُوْسَ (Telah ditangkap orang yang mencuri uang)
قُتِلَ الْكَافِرُ (Orang kafir itu dibunuh)
تُنْكَحُ (Orang itu dinikahi)
ضُرِبُوْا (Mereka dipukul)

Khobar Inna Dan Saudari-Saudarinya

Inna dan saudari-saudarinya merupakan huruf yang masuk pada susunan mubtada dan khobar, sehingga menashabkan mubtada dan merofa’kan khobar.
Mubtada’ yang telah dinashabkan oleh inna dan saudari-saudarinya dikenal dengan Isim Inna.
Khobar yang telah dirofa’kan oleh inna dan saudari-saudarinya dikenal dengan Khobar Inna.
Sehingga istilahnya menjadi berubah, dari mubtada menjadi isim inna dan khobar menjadi khobar inna.
Contoh:
إِنَّ اللهَ حَكِيْمٌ (Sesungguhnya Allah adalah Maha Bijaksana)
إِنَّ عَلِيًّا ذَكِيٌّ (Sesungguhnya Ali adalah Anak yang cerdas)
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ (Sesungguhnya Agama ini mudah)
Perincian kalimat:

Saudari-Saudari Inna:

1. ََّإِنَّ, أَن = Untuk Taukid (Menguatkan sesuatu)
Contoh:
إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar)
وَاعْلَمُوْا أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ (Ketahuilah sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran)
2. لَيْتَ = Untuk berandai-andai
Contoh:
3. كَأَنَّ = Untuk Tasybih (Menyerupakan)
Contoh:
ٌكَأَنَّ عُمَرَ أَسَد (Seakan-akan Umar adalah singa)
4. لَكِنَّ = Untuk Menyatakan kebalikan dari kalimat sebelumnya
Contoh:
5. لَعَلَّ = Untuk pengharapan
Contoh:
Contoh:
أَنْوَاعُ خَبَرِ إِنَّ

(Pembagian Khobar Inna)
Macam-Macam Khobar Inna:
1. Mufrod
Contoh:
(Sesungguhnya keberadaan Surga adalah benar)
2. Jar Majrur
Contoh:
(Sesungguhnya Allah berada di atas langit)
3. Zharaf
Contoh:
(Sesungguhnya jalan keluar bersama dengan kesusahan)
4. Jumlah Ismiyyah
Contoh:
(Sesungguhnya anaknya Umar adalah anak shalih)
5. Jumlah Fi’liyyah
Contoh:
(Sesungguhnya Allah Melihat)
Catatan Khobar Inna:
1. Untuk menentukan mana isim inna dan khobarnya, terlebih dahulu harus dicari mana mubtada dan khabarnya, sehingga apabila didapatkan khobar di depan atau mubtada di belakang maka isim dan khobar inna juga menyesuaikan.
Contohnya adalah kalimat:
فِي الْبَيْتِ الرَّجُلُ (Seorang laki-laki itu di dalam rumah)
Maka kata فِي الْبَيْتِ adalah khobar muqoddam, sedangkan الرَّجُلُ adalah mubtada muakhkhor.
Sehingga apabila kemasukan inna, kalimatnya menjadi:
2. Jika mubtada berbentuk dhomir maka isim inna menyesuaikan,
Contoh:
Menjadi,
Contoh lain:
Menjadi,

Mustatsna

Mustatsna adalah isim yang disebutkan setelah adatul istitsna (alat pengecualian) untuk menyelisihi hukum kata sebelum adatul istitsna. Kata yang terletak sebelum adatul istitsna dikenal dengan istilah mustatsna minhu اَلْمُسْتَثْنَى مِنْهُ
Contoh:
إِلاَّ = Alat pengecualian / Adat istitsna
اَلطُّلاَّبُ = Mustatsna minhu
حَسَنًا = Mustatsna
حَضَرَ الرِّجَالُ إِلاَّ زَيْدًا (Para lelaki itu telah hadir kecuali Zaid)
إِلاَّ = Alat pengecualian
اَلرِّجَالُ = Mustatsna minhu
أَدَاةُ الاِسْتِثْنَاء (Adatul istitsna) ada enam, yaitu:
إِلاَّ, غَيْرُ, سِوَى, خَلاَ, عَدَا, حَاشَا

A. Hukum mustatsna dengan إِلاَّ
1. Wajib nashob, apabila kalimatnya positif dan  disebutkan mustatsna minhu.
Contoh:
رَجَعَ التَّلاَمِيْذُ إِلاَّ وَلَدَيْن (Para siswa telah pulang kecuali dua orang anak)
2. Boleh nashob atau mengikuti mustatsna minhu apabila kalimatnya negatif dan disebutkan mustatsna minhu.
Contoh:
3. Di’irob sesuai dengan kedudukannya dalam kalimat, apabila kalimatnya negatif dan tidak disebutkan mustatsna minhu.
Contoh:
مَا رَجَعَ إِلاَّ مُحَمَّدٌ (Tidak ada yang pulang kecuali Muhammad)
مَا ضَرَبْتُ إِلاَّ زَيْدًا (Aku tidak memukul kecuali Zaid)
B. Hukum mustatsna dengan غَيْر dan سِوَى
Mustatsna dengan غَيْر dan سِوَى adalah selalu majrur.
Contoh:
Catatan:
1. Hukum I’rob غَيْر adalah mengikuti hukum mustatsna dengan إِلاَّ
Contoh:
a. Kalimat positif dan disebutkan mustastna minhu.
b. Kalimat negatif dan disebutkan  mustasna minhu.
c. Kalimat negatif dan tidak disebutkan mustasna minhu.

Isim Isyaroh dan Isim Maushul

اِسْمُ الْإِشَارَةِ
(Kata Penunjuk)

اَلاِسْمُ الْمَوْصُوْلُ
(Kata Sambung/Penghubung)



Tashrif Lughowi Fi’il Amr

3. Tasrif lughowi untuk fi’il amr
Contoh tashrif lughowi untuk fi’il اُنْصُرْ